Dari Kelas ke Startup: Perjalanan Saya Menemukan Dunia Fintech yang Tak Terduga


 

Kadang Jalan Hidup Ga Lurus, Tapi Justru Di Situ Serunya

Kalau dipikir-pikir, saya tuh dulu sama sekali ga kebayang bakal kerja di dunia startup, apalagi fintech.


Serius. Dulu saya cuma tahu “startup” itu kayak istilah keren buat anak IT di Jakarta. 😅
Tapi ternyata hidup punya rencana lain.


Saya pertama kali kenal dunia startup justru ketika saya udah kerja di salah satu startup fintech di Bandung, yang sampai sekarang, sambil nulis artikel ini, saya masih jadi bagian dari timnya.


Dan jujur aja, perjalanan ke titik ini tuh panjang banget.
Penuh tikungan, cerita lucu, dan pelajaran yang ga bisa didapet dari buku mana pun.



A. 2016 | Dari Guru, BEM, ke KKN: Tahun Paling Sibuk dalam Hidup 😅

Tepat Januari 2016, saya diterima jadi guru di International Green School Sumedang, pas banget setelah terpilih jadi Ketua BEM 2015. Udah kebayang kan sibuknya?


Pagi saya ngajar di sekolah, sore lanjut ke posko KKN buat ngerjain program kerja bareng tim.
Weekend? Ya di posko lagi.


Ngatur acara, rapat warga, nyusun laporan… pokoknya full. Tapi seru. Karena saya percaya: kalau bisa bantu orang, ya bantu aja dulu.


Setahun kemudian, Januari 2017, saya memutuskan mengundurkan diri dari dunia mengajar.


Bukan karena ga suka, tapi karena pengen nyari jati diri.
Saya ngerasa harus coba dunia baru, meskipun ga tahu dunia itu kayak apa.



B. 2017 | Dunia Contact Center: Belajar Profesional dan Disiplin dari Nol

Beberapa minggu kemudian, saya diterima di Contact Center Telkomsel.
Dan di sini saya benar-benar belajar banyak.


Selama sebulan penuh, kami digembleng dengan pelatihan hard skill, soft skill, hingga role play. Ketemu teman-teman baru yang super asik, bahkan ada yang lulusan kampus luar kota, tapi tetap rendah hati dan jago banget.


Bekerja di dunia customer service ngajarin saya gimana caranya tetap ramah walau kadang pelanggan marah, gimana menahan ego, dan gimana komunikasi yang empatik bisa bikin perbedaan besar.


Tapi di balik itu semua, ada hal yang bikin saya merasa... kayaknya ini bukan tempat jangka panjang saya.


Ada “cara kerja” yang ga sejalan dengan hati nurani saya.
Bukan hal besar, tapi cukup buat saya mikir: kalau rezeki datangnya dari hal yang bikin ga tenang, apa masih bisa dibilang berkah?


Akhirnya, September 2017, saya mutusin untuk resign.
Berat, tapi lega.



C. 2018 | Awalnya Lamar Telemarketing, Malah Diterima Jadi Business Development

Setelah resign, saya sempat “nganggur aktif”, ikut pameran, kirim lamaran ke sana-sini, ikut interview (yang kadang cuma dihubungi HR lalu hilang 😂).


Sampai akhirnya, teman lama dari Contact Center bilang kalau kantornya lagi butuh telemarketing.
Saya coba lamar, eh seminggu kemudian langsung dipanggil interview.
Yang wawancara? Senior dan CEO-nya langsung!


Dan anehnya, setelah proses itu… saya malah diterima bukan sebagai telemarketing, tapi langsung jadi Business Development.


Mungkin CEO-nya lihat potensi lain, atau mungkin karena saya banyak ngomong pas interview 😅
Yang jelas, Januari 2018 resmi jadi titik baru dalam karier saya.



D. Dunia Fintech & Startup: Berat, Tapi Berharga Banget

Masuk ke dunia startup tuh kayak masuk ke roller coaster: cepat, padat, dan penuh kejutan.
Baru di sini saya tahu apa itu fintech, apa itu scaling, apa itu growth mindset (yang dulu saya kira cuma slogan motivasi).


Awalnya saya kewalahan. Tapi lama-lama saya sadar:
walau cepat dan menantang, dunia startup tuh tempat terbaik buat belajar segalanya sekaligus.


Saya ikut acara dengan para CEO dan HR, bantu bikin event online-offline, dan ketemu banyak orang hebat.


Capek? Banget. Tapi pengalaman ini mahal banget nilainya.



E. 2019 | Dari BD ke Bangun Divisi Baru

Tahun 2019, saya dikasih amanah baru: membentuk divisi Telemarketing dari nol.
Dan jujur, itu bukan hal yang mudah.


Mulai dari desain sistem, nyebarin lowongan, wawancara kandidat, sampai training, semua saya kerjakan sendiri.


Tapi hasilnya luar biasa: dalam dua tahun, revenue naik signifikan.
Dari awalnya fokus di B2C, kami mulai megang B2B dan project besar yang bisa bernilai sampai miliaran per tahun.


Lalu divisi kami berubah nama jadi Enterprise Solutions (ya, nama yang katanya lebih “startup banget” 😆).


Kerjaannya campur-campur: telemarketing, business development, CRM, advisory support, pokoknya palu gada profesional edition.



F. 2020 | Sekarang, Tetap Berdiri di Tengah Perubahan

Beberapa kali ada efisiensi dan PHK, satu per satu rekan tim pamit.
Dan akhirnya, di Januari 2026, saya kembali “sendirian”, megang semuanya sendiri.
Lucunya, saya ga sedih. Saya malah tertantang.


Saya mulai upgrade skill sendiri, ikut pelatihan online, bahkan bayar tools pribadi buat bantu kerja.
Bukan karena disuruh, tapi karena saya pengen ngerti hal-hal yang bisa bikin kerjaan lebih efektif.


Sekarang saya sadar, posisi saya memang generalis, tapi itu bukan kelemahan.
Itu artinya saya punya gambaran besar, dari operasional, data, sampai hubungan klien.


Kalau nanti saya jadi spesialis, saya tahu arah mana yang mau saya pilih: data dan client engagement.
Karena di situlah saya merasa paling “hidup”.



Dari Guru, ke Telemarketing, ke Business Development, Semua Mengajarkan Hal Sama

Setiap fase hidup saya ngasih pelajaran baru:

  • Jadi guru ngajarin empati dan kesabaran.

  • Jadi customer service ngajarin komunikasi dan integritas.

  • Jadi business development ngajarin sistem, strategi, dan tanggung jawab yang lebih besar.


Dan kalau saya rangkum, karier ini seperti siklus belajar yang ga pernah berhenti.
Bedanya, sekarang saya bukan cuma mengajar orang lain, tapi juga terus belajar dari pengalaman dan orang di sekitar saya.


“Kadang jalan hidup ga lurus, tapi justru di belokan itulah kita nemu versi terbaik dari diri sendiri.”

0 komentar:

Posting Komentar